Kalau biasanya suasana menjelang Lebaran identik dengan pusat perbelanjaan yang ramai, suara takbir, dan jalanan penuh kendaraan, Gorontalo punya cara sendiri yang nggak kalah menarik. Di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, ada tradisi bernama Tumbilotohe, atau malam pasang lampu, yang digelar pada tiga malam terakhir Ramadan, biasanya mulai malam ke-27 hingga ke-29. Saat tradisi ini berlangsung, lampu-lampu dipasang di halaman rumah, sepanjang jalan, sekitar masjid, sampai berbagai ruang terbuka. Hasilnya? Wajah Kota Gorontalo berubah menjadi jauh lebih terang dan meriah. Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun dan pada masa lalu berkaitan dengan kebutuhan penerangan warga yang hendak menuju masjid untuk beribadah di malam-malam terakhir Ramadan.
Ada beberapa hal yang bikin Tumbilotohe terasa beda dari tradisi menyambut Lebaran pada umumnya:
1. Ribuan lampu bikin suasana kota berubah total.
Lampu yang dipasang secara serentak menciptakan pemandangan seperti lautan cahaya. Nggak cuma rumah warga, sejumlah jalan dan ruang publik juga ikut dihiasi sehingga malam hari terasa lebih hidup.
2. Bukan sekadar dekorasi Lebaran.
Tumbilotohe punya makna yang cukup dalam. Cahaya lampu dipahami sebagai simbol penerangan dan harapan, sekaligus berkaitan dengan aktivitas ibadah masyarakat pada penghujung Ramadan. Jadi, bukan cuma buat estetik atau bahan foto-foto.
3. Tradisinya sudah berumur sangat panjang.
Sejumlah sumber menyebut Tumbilotohe telah dikenal masyarakat Gorontalo sejak berabad-abad lalu. Dulu, penerangan tradisional menggunakan damar, kemudian berkembang memakai sumbu dan minyak kelapa atau minyak tanah dalam wadah sederhana.
4. Sekarang mulai beradaptasi dengan zaman.
Kalau dulu identik dengan lampu botol berbahan minyak, kini bentuk hiasannya semakin beragam. Bahkan pemerintah daerah mendorong konsep Green Tumbilotohe, antara lain dengan penggunaan minyak kelapa sebagai alternatif yang dianggap lebih ramah lingkungan dibanding minyak tanah.
Kalau dilihat dari perspektif urban, Tumbilotohe sebenarnya menarik banget karena menunjukkan bagaimana sebuah tradisi bisa mengubah fungsi ruang kota untuk sementara. Jalan, halaman rumah, lapangan, hingga kawasan sekitar tempat ibadah yang biasanya cuma berfungsi sebagai ruang aktivitas harian, berubah menjadi ruang sosial bersama ketika lampu dinyalakan. Dari sisi psikologi lingkungan, pencahayaan pada malam hari juga bisa membuat suatu kawasan terasa lebih hidup dan meningkatkan persepsi keterhubungan antarwarga. Namun, ada sisi lain yang perlu diperhatikan juga. Penggunaan lampu berbahan bakar minyak dalam jumlah besar tentu menghasilkan emisi dan membutuhkan pengelolaan yang baik. Karena itu, pergeseran menuju bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dan dekorasi yang lebih efisien menjadi langkah menarik agar tradisi tetap berjalan tanpa mengabaikan kondisi lingkungan. Konsep seperti ini menunjukkan bahwa budaya lama ternyata bisa terus berkembang tanpa harus kehilangan identitasnya.
Pada akhirnya, Tumbilotohe bukan cuma soal ribuan lampu yang bikin Gorontalo terlihat cantik menjelang Lebaran. Di balik cahaya tersebut ada sejarah, nilai keagamaan, kebersamaan warga, dan cara masyarakat menjaga warisan budaya di tengah perubahan zaman. Nggak heran kalau setiap Ramadan tiba, malam-malam terakhir di Gorontalo punya suasana yang benar-benar beda.