Kalau dengar kata Erau, banyak orang mungkin langsung membayangkan festival ramai dengan pertunjukan seni, musik, dan kerumunan warga. Padahal, di kawasan Samarinda dan Kalimantan Timur, khususnya dalam rangkaian tradisi Kutai yang terhubung dengan Tenggarong dan Kutai Lama, Erau punya sisi yang jauh lebih dalam. Tradisi ini berasal dari lingkungan budaya Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan bukan sekadar pesta rakyat. Di balik suasana meriah, ada rangkaian ritual adat yang berkaitan dengan penghormatan terhadap leluhur, keselamatan, serta hubungan manusia dengan alam. Bahkan, beberapa prosesi Erau melibatkan wilayah Samarinda Seberang sebelum rangkaian ritual berlanjut menuju Kutai Lama.
1. Ada ritual Mengulur Naga yang penuh simbol. Sepasang replika naga, yaitu Naga Laki dan Naga Bini, diarak menggunakan kapal dari kawasan Keraton Kutai menuju Kutai Lama. Ritual ini berkaitan erat dengan legenda Putri Karang Melenu dan asal-usul Kesultanan Kutai Kartanegara. Dalam perjalanan, rombongan bahkan sempat melakukan prosesi di Tepian Aji, Samarinda Seberang.
2. Erau punya ritual Beluluh. Prosesi ini dilakukan sebagai bagian dari penyucian diri sebelum rangkaian Erau berlangsung. Dalam tradisinya, Sultan dan permaisuri menjalani prosesi yang memiliki makna membersihkan hati, tubuh, perilaku, serta ucapan. Jadi, sebelum masuk ke bagian yang ramai, ada tahapan yang sifatnya sakral dan penuh simbol.
3. Ada Belimbur yang bukan sekadar perang air. Bagi masyarakat Kutai, Belimbur memiliki makna penyucian diri. Air digunakan sebagai simbol untuk membersihkan diri dari hal-hal buruk sekaligus memohon keselamatan dan keberkahan. Makanya, meski dari luar kelihatan seperti warga sedang seru-seruan saling menyiram air, sebenarnya ada filosofi yang sudah diwariskan lintas generasi.
4. Erau menjadi cara masyarakat menjaga ingatan budaya. Tradisi ini membuat cerita tentang kerajaan, leluhur, sungai, dan identitas Kutai tetap hidup di tengah kehidupan modern. Ritualnya bukan cuma dilakukan untuk tontonan, tetapi menjadi ruang pertemuan antara masyarakat, sejarah, dan warisan budaya.
Kalau dilihat dari pandangan urban, tradisi seperti Erau sebenarnya punya fungsi sosial yang menarik. Di tengah kota yang terus berkembang, masyarakat berisiko makin jauh dari sejarah lokal karena kehidupan modern bergerak serba cepat. Ritual bersama seperti Erau justru menciptakan semacam “ruang sosial” tempat warga berkumpul dan mengingat kembali identitas daerahnya. Dari sisi antropologi, simbol seperti naga, air, sungai, dan ritual penyucian bisa menjadi media untuk menyampaikan nilai budaya tanpa harus selalu memakai bahasa formal. Penelitian mengenai Erau juga menunjukkan bahwa rangkaian upacaranya memiliki hubungan dengan cara masyarakat memaknai relasi manusia, alam, spiritualitas, dan kehidupan sosial. Jadi, ketika warga melihat prosesi naga bergerak di atas Sungai Mahakam atau ikut dalam Belimbur, yang berlangsung sebenarnya bukan cuma festival, tetapi juga proses pewarisan memori budaya.
Pada akhirnya, Erau menunjukkan bahwa tradisi lama masih bisa punya tempat di tengah kehidupan modern. Dari Samarinda hingga Tenggarong dan Kutai Lama, setiap ritual membawa cerita tentang bagaimana masyarakat Kutai menjaga hubungan dengan sejarah dan leluhur. Jadi, kalau suatu saat melihat Erau, jangan cuma lihat kemeriahannya—coba lihat juga makna di balik setiap prosesi yang dijalankan.